Gadis-gadis muda Rohingya yang telah melarikan diri dari Myanmar dipaksa untuk menikah saat mereka sampai di Bangladesh hanya untuk mendapatkan lebih banyak makanan untuk diri mereka dan keluarga mereka.

Dengan jatah dari Program Pangan Dunia PBB yang dialokasikan untuk satu keluarga, the Guardian mempelajari bahwa warga Rohingya menikahkan anak-anak gadis yang berusia 12 tahun untuk mendapatkan jatah makanan dan menciptakan rumah tangga baru dengan kuota pangan mereka sendiri.

Gadis berusia 14 tahun ini, tiba di Bangladesh lebih dari setahun yang lalu setelah melarikan diri dari kekerasan militer di negara bagian Rakhine, bertunangan. Ayahnya mengatakan bahwa ransum beras tidak cukup untuk memberi makan keluarga 10. Foto: Antolín Avezuela

Lebih dari 700.000 orang Rohingya telah meninggalkan Myanmar sejak militer melancarkan serangan pertama mereka yaitu ‘operasi pemusnahan’ pada bulan Oktober tahun lalu. Sekitar 600.000 orang telah mengungsi sejak gelombang kedua bulan Agustus, yang oleh PBB dikecam sebagai “pembersihan etnis”. Pasukan keamanan telah dituduh melakukan pemerkosaan massal dan pembunuhan secara keji.

Petugas medis di Bangladesh mengatakan bahwa gadis-gadis muda menjadi sasaran kekerasan seksual di negara bagian Rakhine di Myanmar. Bahkan di kamp pengungsi Cox’s Bazar, mereka masih harus menghadapi kekerasan lain yaitu pernikahan dini, yang menyebabkan kerusakan fisik dan psikologis.

Sementara pernikahan dini dipraktekkan di komunitas Rohingya di Myanmar, gadis-gadis tersebut mengatakan bahwa ransum makanan merupakan faktor utama untuk memutuskan menikah di kamp.

Marium, 14, tiba di Bangladesh pada bulan September. Dia menikah tiga minggu kemudian. “Semuanya yang ada di desa terbakar habis. Dan kami menyaksikan banyak yang tertembak mati ketika keluar untuk melarikan diri.” katanya.

“Saya tidak lagi memiliki ayah dan saya sudah sangat membebani ibu jadi lebih baik saya menikah. Tentu saja jika ibu saya memiliki kemampuan untuk memberi makan saya, saya akan senang untuk tetap melajang.” ujarnya.

Muhammad Hassen baru saja mengatur pernikahan putrinya yang berusia 14 tahun, Arafa. “Kami memiliki 10 anggota keluarga, tujuh anak perempuan, dan kami mendapatkan 25kg beras setiap dua minggu. Ini tidak cukup untuk keluarga 10.”katanya.

Gadis berusia 15 tahun ini menikah dengan orang asing kurang dari dua bulan setelah tiba di Bangladesh pasca operasi pembersihan di negara bagian Rakhine. Foto: Antolín Avezuela

“Tentu saja jika saya tinggal di Rakhine, saya akan menunggu usia yang tepat untuk menikahi anak perempuan saya. Saya adalah seorang petani dengan tiga hektar tanah. Saya akan memberinya makan dengan apa yang saya miliki di rumah atau keluarga besar dan tetangga saya akan membantu. Di sini kita tidak bisa melakukan itu.” lanjutnya pasrah.

 

“Orang tua saya memberi saya suami karena mereka tidak mampu memberi makan saya. Ketika saya menikah, saya hanya berpikir suami saya akan memberi makan saya, saya tidak mengerti apa yang akan dia lakukan [dalam hal hubungan intim],” kata Fatima, yang saat menikah baru berusia 12.

Mohamad, seorang pemimpin komunitas mazi mengatakan bahwa sebenarnya para orang tua tidak mau menikahi anak perempuan mereka, tapi “mereka perlu makan”.

Wanita Sudah menikah dan hamil dengan anak pertamanya saat dia melarikan diri dari Myanmar, pemudi berusia 15 tahun ini menjanda setelah suaminya jatuh sakit dan kemudian meninggal dunia saat melarikan diri. Foto: Antolín Avezuela

 

Saya punya satu anak laki-laki dan enam anak perempuan. Di Myanmar, perkawinan di bawah 18 tahun tidak diperbolehkan dan kami membutuhkan izin militer dan hal ini menghabiskan banyak uang. Ini adalah kesempatan besar yang tidak tersedia di Myanmar,” katanya

Muhammad bertekad untuk menemukan suami untuk semua putrinya. “Pernikahan dini tidak baik sepanjang pengetahuan saya – tapi itu bagus untuk saya. Karena saya tidak bisa memberi mereka makan, satu per satu saya harus memberi mereka suami. ” tutupnya pedih.

sumber: theguardian.com