Pihak berwenang menetapkan jam malam untuk memberantas gelombang baru kekerasan yang menyasar minoritas Muslim di negara tersebut.

Saksi mata mengatakan peristiwa baru-baru ini mengingatkan pada serangan tahun 2014 lalu oleh kelompok nasionalis Buddha garis keras [Eranga Jayawardena/AP]

Sri Lanka memberlakukan jam malam di sebuah pusat kota yang populer di kalangan turis setelah berhari-hari kerusuhan antara dua kelompok agama mengakibatkan seorang pria Budha terbunuh dan pusat perniagaan komunitas Muslim terbakar.

Polisi mengatakan pada hari Senin (5/3) bahwa telah terjadi kerusuhan dan serangan pembakaran sejak akhir pekan di distrik Kandy, sementara sebuah sumber mengatakan kepada Al Jazeera bahwa kekerasan tersebut menyebar ke seluruh negara kepulauan Asia Selatan.

“Jam malam diberlakukan untuk mengendalikan situasi di daerah tersebut,” kata juru bicara kepolisian Ruwan Gunasekera.

Petugas polisi diterjunkan dengan kesiagaan tinggi di Kandy untuk memastikan “situasi tidak mengarah ke dalam serangan antar-komunal”, kata pemerintah dalam sebuah pernyataan.

Massa Budha membakar toko-toko milik Muslim dan menyerang sebuah masjid di bagian timur negara tersebut.

Pejabat lokal mengatakan lebih dari dua lusin tersangka telah ditahan oleh polisi sehubungan dengan serentetan serangan pembakaran, sementara perwira senior juga melancarkan penyelidikan atas tindakan polisi tersebut.

Rajith Keerthi Tennakoon, direktur eksekutif Pusat Hak Asasi Manusia Sri Lanka, mengutuk “inefisiensi polisi” yang menurutnya menyebabkan kekerasan tersebut terjadi.


“Halaman media sosial mengumpulkan massa Sinhala untuk berkumpul di kota Teldeniya pada pukul 10. Pada pukul 11:00, ada kecenderungan terjadinya konfrontasi kekerasan terjadi saat massa berkumpul. Penghancuran properti Muslim mulai berlangsung sekitar pukul 13:00,” kata Tennakoon kepada Al Jazeera.

Kekerasan memburuk setelah seorang pria dari mayoritas Sinhala (sebagian besar beragama Budha) meninggal karena luka-luka yang dideritanya dalam sebuah kerusuhan.

Kandy adalah wilayah terakhir yang dirundung konflik antar agama dan etnis di Sri Lanka, sebuah negara berpenduduk 21 juta orang.

Najah Mohamed, sekretaris partai Front Nasional untuk Good Governance di Sri Lanka, mengatakan pada Al Jazeera bahwa serangan menyebar ke seluruh negeri, tidak hanya di Kandy.

“Kami menghadapi situasi yang sama dengan yang dialami oleh pemerintahan sebelumnya, terjadi ketegangan, kebencian, dan kekerasan terhadap umat Islam yang merajalela di mana mereka adalah komunitas yang tersebar,” kata Mohamed.

Kekerasan beragama dan etnis bisa mematikan di Sri Lanka, di mana umat Islam menyumbang 10 persen populasi dan umat Buddha Sinhala menjadi mayoritas, hampir 75 persen.

Beberapa pengamat menyalahkan keterlibatan kelompok garis keras Bodu Bala Sena (BBS) sebagai penyebab kekerasan yang sedang berlangsung.

“Massa BBS yang kejam memanipulasi situasi untuk memicu serangan terhadap umat Islam dengan cara yang belum pernah terjadi sebelumnya dan mulai menyerang orang Islam. Pada sore hari polisi bersiaga dan jam malam diberlakukan di sini, namun masih ada insiden yang tidak dilaporkan,” kata Mohamed.

Kekerasan agama bukanlah hal baru di negara ini. Kampanye anti-Muslim pernah dilancarkan menyusul kerusuhan Aluthgama yang mematikan pada bulan Juni 2014.

Presiden Maithripala Siresena telah berjanji untuk menyelidiki kejahatan anti-Muslim setelah mengambil alih kekuasaan pada tahun 2015, namun tidak ada kemajuan signifikan yang dilaporkan.

Sumber : aljazeera