PBB telah menyebut operasi militer Myanmar terhadap Muslim Rohingya di Negara Bagian Rakhine pada tahun 2017 sebagai “contoh buku teks tentang pemusnahan suatu etnis”.

Akibatnya, lebih dari 700.000 penduduk Rohingya melarikan diri dari Myanmar – keadaan dimana terjadi krisis pengungsi terbesar di dunia dalam beberapa dasawarsa.

Selama kunjungan ke Bangladesh beberapa waktu lalu untuk menyoroti penderitaan Rohingya, Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres menggambarkan Rohingya sebagai, “salah satu komunitas yang paling terdiskriminasi dan tertindas di dunia,” dan menyebut krisis pengungsi Rohingya, “sebuah tragedi kemanusiaan dan mimpi buruk bagi hak asasi manusia “.

Setelah menyelesaikan perjalanannya di Kamp Kutupalong, Guterres mendesak komunitas internasional agar berbuat lebih banyak untuk membantu para pengungsi dan bagaiamana menambah bantuan, “tidak ada yang bisa saya lakukan untuk memastikan skala krisis dan tingkat penderitaan”. tambahnya.

Mohammad dan Anggota keluarga di tenda pengungsi di Cox Bazar, Bangladesh.

Mohammad Ayub, 31, mengalami kesulitan komunikasi dan meluapkan ekspresinya, ketika ia berbicara, nampak kemarahan terdengar dalam suaranya dan terlihat di wajahnya.

Dia mengatakan bahwa dia senantiasa dihantui oleh kekejaman yang dia saksikan dilakukan oleh aparat keamanan Myanmar terhadap keluarganya, seandainya ia dikembalikan ke rumah.

“Mereka menangkap dan menembaki penduduk,” jelasnya. “Dan dalam beberapa kasus, tentara Myanmar memukuli penduduk sampai mati dengan gagang senjata mereka.”

Muhammad berupaya keras dalam menghadapi kesedihan yang dilaluinya atas anggota keluarga yang terbunuh seperti yang dilakukannya atas teman-teman dan kerabat yang hilang.

“Tidak ada yang bisa mengajukan pertanyaan tentang penghilangan paksa,” kata Mohammad. “Bahkan seorang laki-laki tidak berhak bertanya tentang saudara laki-lakinya yang hilang. Anda mengerti? Kami tidak tahu siapa yang menghilang dan ke mana. Kami hanya harus tetap diam tentang hal itu.”

Lebih dari segalanya, Mohammad ingin anak-anaknya diberikan kewarganegaraan dan mengalami semacam kedamaian dan keadilan yang tidak pernah dia dapatkan. Dia mengatakan hanya ada satu cara yang bisa terjadi.

“Kekejaman yang dilakukan terhadap pria dan wanita kami, harus didengar oleh Pengadilan Kriminal Internasional sehingga kita mendapatkan keadilan,” kata Mohammad.

“Dan jika tidak, kita tidak akan puas.” tutupnya.

Sumber: aljazeera.com