Laporan petugas medis PBB di Bangladesh menyebutkan bahwa mereka banyak mendapati puluhan wanita yang mendapatkan kekerasan seksual dari militer Myanmar. Laporan ini juga didukung catatan medis yang di review oleh Reuters, dimana kejadian yang pernah terjadi lima tahun lalu kini berulang, mulai dari penganiayaan hingga pemerkosaan diterima oleh wanita-wanita Rohingya yang rumahnya diserang oleh militer Myanmar yang didukung oleh ekstrimis budha.

Wanita Rohingya yang menyelamatkan diri dari kebengisan tentara Myanmar

Pejabat Myanmar sebagian besar telah menolak tuduhan tersebut sebagai propaganda militan yang dirancang untuk mencemarkan nama baik militernya, yang menurut mereka terlibat dalam operasi kontra pemberontakan yang sah dan di bawah perintah untuk melindungi warga sipil.

Zaw Htay, juru bicara pemimpin de facto Myanmar Aung San Suu Kyi, mengatakan pihak berwenang akan menyelidiki tuduhan yang diajukan kepada mereka. “Korban-korban pemerkosaan itu harus mendatangi kita,” katanya. “Kami akan memberikan keamanan penuh kepada mereka. Kami akan menyelidiki dan kami akan mengambil tindakan.” tambahnya.

Suu Kyi sendiri belum berkomentar mengenai banyaknya tuduhan penyerangan seksual yang dilakukan oleh militer terhadap wanita Rohingya yang dipublikasikan sejak akhir tahun lalu.

Reuters berbicara dengan delapan petugas kesehatan dan perlindungan di distrik Cox’s Bazar di Bangladesh yang antara mereka mengatakan bahwa mereka telah merawat lebih dari 25 kasus pemerkosaan sejak akhir Agustus lalu.

Petugas medis mengatakan bahwa mereka dapat memastikan bahwa para wanita tersebut benar-benar telah menerima tindakan kekerasan seksual dari militer Myanmar, hal tersebut dapat dilihat dari gejala fisik yang dialami puluhan wanita tersebut, selain dari pengakua mereka yang menegaskan bahwa memang benar militerlah yang melakukannya.

Sangat jarang dokter dan petugas kemanusiaan PBB yang mau berbicara tentang pemerkosaan yang diduga dilakukan oleh angkatan bersenjata satu negara, mengingat sensitifnya masalah tersebut.

Para wanita membawa serta anak-anak mereka karena khawatir kekerasan yang dilakukan oleh militer Myanmar.

Serangan Tidak Berperikemanusiaan

Dokter di sebuah klinik yang dikelola oleh Organisasi Internasional untuk Migrasi PBB di pengungsian sementara Leda mengatakan bahwa mereka merawat ratusan wanita dengan luka-luka yang disebabkan oleh kekerasan seksual selama operasi militer pada bulan Oktober dan November tahun lalu..

Ada sedikit laporan pemerkosaan dari para pengungsi yang baru datang bulan Agustus kemarin, kata Dr. Niranta Kumar, koordinator kesehatan klinik tersebut, namun mereka yang melihat luka-luka dari pengungsi tersebut menunjukkan adanya serangan yang sangat agresif terhadap wanita.

Dokter di klinik Leda menunjukkan kepada seorang reporter Reuters tiga kasus, tanpa membocorkan identitas pasien tersebut. Ia menceritakan tentang pasien wanita berusia 20 tahun yang dirawat pada 10 September, tujuh hari setelah dia menjadi korban perkosaan oleh tentara di Myanmar. Pasien tersebut bercerita bahwa tentara telah menarik rambutnya dan memukulkan senjata ke wajahnya sebelum memperkosanya.

“Dalam pemeriksaan kami sering menemukan luka yang menunjukkan adanya penetrasi paksa, pemukulan dan bahkan pemotongan alat kelamin yang disengaja”, kata dokter.

“Kami menemukan tanda kulit, ini menunjukkan serangan yang brutal dan tidak manusiawi,” kata Dr Tasnuba Nourin.

Di klinik pemerintah Bangladesh yang didukung PBB di daerah Ukhia, dokter Misbah Uddin Ahmed melaporkan bahwa mereka merawat 19 wanita yang telah diperkosa. “Buktinya termasuk bekas gigitan, robeknya vagina dan hal-hal semacam ini,” katanya.

Dalam satu hari saja, pada tanggal 14 September, enam wanita Rohingya datang ke salah satu klinik, semua mengatakan bahwa mereka diserang secara seksual, dan mengakui bahwa tentara Myanmar yang melakukan kekerasan tersebut.

Seorang dokter IOM yang meminta untuk tidak diidentifikasi, bekerja di salah satu klinik di dekat kamp pengungsi Kutapalong, mengatakan seorang wanita yang menyeberang dari Myanmar pada akhir Agustus mengatakan bahwa dia diperkosa oleh setidaknya tujuh tentara.

“Dia sangat lemah dan trauma dan mengatakan bahwa dia berjuang untuk sampai ke klinik,” kata dokter tersebut. “Dia mengalami laserasi di vagina.” lanjutnya.

Dokter tersebut merawat 15 dari 19 kasus wanita yang telah diperkosa, dan delapan wanita lainnya yang telah diserang secara fisik. Beberapa diberi kontrasepsi darurat, dan semua diberi perawatan untuk mengurangi risiko tertular HIV. Gejala termasuk bekas gigitan di lengan dan punggung, robek dan laserasi pada vagina dan pendarahan vagina, kata dokter tersebut.

Laporan internal yang disusun oleh lembaga bantuan di Cox’s Bazar mencatat bahwa 49 “korban SGBV” diidentifikasi hanya dalam empat hari antara tanggal 28-31 Agustus. SGBV, atau kekerasan seksual dan berbasis gender digunakan untuk merujuk hanya pada kasus perkosaan, menurut dokter dari PBB Data untuk kasus perkosaan yang dilaporkan tidak tersedia untuk tanggal lain.

Sebuah laporan situasi dari lembaga bantuan mengatakan lebih dari 350 orang telah dirujuk untuk mendapatkan perawatan psikologis. Kate White, koordinator medis darurat untuk Médecins Sans Frontières (MSF) di Cox’s Bazar mengatakan bahwa badan amal tersebut telah menangani setidaknya 23 kasus kekerasan seksual dan berbasis gender termasuk perkosaan dan pemerkosaan seksual sejak 25 Agustus. “Ini adalah sebagian kecil dari Kasus yang kemungkinan terjadi di luar sana, “katanya.

“PEMERKOSAAN SEBAGAI SENJATA” laporan Reuters pertama kali terkait tuduhan pemerkosaan massal terhadap wanita Rohingya dalam beberapa hari setelah serangan militan di Rakhine utara pada bulan Oktober. Laporan yang sama juga didengar oleh peneliti PBB yang mengunjungi Bangladesh pada bulan Januari. Sebuah laporan dari Sekretaris Jenderal PBB pada bulan April mengatakan bahwa kekerasan seksual “tampaknya dilakukan secara sistematis untuk mempermalukan dan meneror komunitas mereka”.

Sebelum dia naik ke tampuk kekuasaan tahun lalu, Suu Kyi telah berbicara tentang pemerkosaan yang digunakan sebagai alat perpecahan dalam konflik etnis yang beragam di negara ini. “Ini digunakan sebagai senjata oleh angkatan bersenjata untuk mengintimidasi etnisitas dan untuk membagi negara kita, inilah bagaimana saya melihatnya,” katanya pada tahun 2011 dalam pesan video ke sebuah konferensi tentang kekerasan seksual dalam konflik. Juru bicaranya Zaw Htay mengatakan bahwa “tidak ada yang perlu dikatakan” ketika ditanya apakah pandangannya telah berubah sejak saat itu. “Semuanya harus sesuai dengan aturan hukum,” katanya. “Para pemimpin militer juga mengatakan akan mengambil tindakan.”

Dilaporkan oleh Simon Lewis dan Tommy Wilkes di BAZAR COX, BANGLADESH;

Pelaporan tambahan oleh Shoon Naing di Yangon