Aleppo 12/2016 – Krisis di Suriah telah masuk pada dimensi baru khususnya bagian Timur kota Aleppo yang sebelumnya menjadi wilayah luas dibawah kontrol pejuang, kini jatuh ke pasukan di bawah komando Presiden Suriah Bashar al-Assad. Dalam banyak hal, Aleppo telah merangkum beberapa keadaan menjadi satu yaitu konflik, kekerasan dan keputusasaan yang berkumandang di seluruh negeri yang porak poranda.

TOPSHOT - Syrian residents fleeing the violence gather at a checkpoint, manned by pro-government forces, in the village of Aziza on the southwestern outskirts of the northern Syrian city of Aleppo on December 8, 2016. Syria's army battled to take more ground from rebels in Aleppo after President Bashar al-Assad said victory for his troops in the city would be a turning point in the war. / AFP / Youssef KARWASHAN        (Photo credit should read YOUSSEF KARWASHAN/AFP/Getty Images)

Penduduk Aleppo yang meninggalkan tempat tinggal mereka di Aleppo Timur

Kekejaman yang terjadi pada konflik Suriah ini telah dipertontonkan secara real time di depan mata kita, disiarkan melalui Facebook, Twitter dan chanel berita, seluruhnya terdokumentasi. Fakta dan bukti-bukti yang jelas terlihat, rumah sakit dan fasilitas medis telah diserang – baik sengaja atau serangan menyeluruh tanpa pandang bulu – setidaknya terjadi 400 kali sejak awal konflik. Lebih dari 90 dari serangan ini telah dilakukan oleh pasukan pemerintah Suriah dan sekutu mereka dari Rusia. Namun, tenaga medis dengan ancaman mengintai mereka, telah bekerja tanpa lelah untuk mengobati warga yang sakit dan korban luka-luka, melakukan operasi dengan menggunakan instrumen seadanya, dipandu oleh cahaya smartphone dan senter mereka.

Penargetan fasilitas dan tenaga medis adalah kejahatan perang ketika dilakukan secara meluas atau sistematis, ini merupakan kejahatan terhadap kemanusiaan yang memperjelas betapa terang-terangannya pemerintah Suriah dan Rusia telah menipu kita semua. Mereka bersikeras mengklaim bahwa mereka sedang berjuang untuk mengakhiri momok yang disebut teror Islam radikal. Sebaliknya, di waktu bersamaan mereka menghancurkan infrastruktur kesehatan dan melakukan pemboman merata di kota bersejarah Aleppo, sementara itu kelompok yang disebut Islamic State tengah mengalami kemajuan signifikan dan merebut kembali kawasan Palmyra. Fakta berbicara sendiri. Ini bukan operasi antiteror. Ini adalah kampanye bumi hangus terhadap siapapun yang mengancam pemerintahan otoriter Bashar Al-Assad atau kepentingan Rusia di Timur Tengah.

Kedua juru bicara pemerintah Suriah dan Rusia telah menyatakan dengan jelas, siapa saja yang masih di daerah pejuang kontra pemerintah akan diperlakukan seperti Aleppo Timur, siapapun yang memberikan bantuan (termasuk bantuan medis dan kemanusiaan lainnya) untuk oposisi akan diperlakukan sebagai teroris dan akan dihancurkan. Sikap itu sepertinya pernah akrab di telinga kita, langkah ini sama dengan pernyataan mantan presiden AS George W. Bush, 9 hari setelah 9/11, pada awal perang melawan teror, “Entah Anda dengan kami, atau Anda dengan teroris. “

Retorika seperti ini memberikan lisensi untuk Assad dan aktor kejahatan lainnya untuk melenyapkan semua pihak yang berlawanan dengan mereka. Mereka menggunakan istilah terorisme sebagai alasan untuk mengabaikan perlindungan warga sipil dalam konflik, mengabaikan undang-undang yang melindungi fasilitas medis dan tenaga medis dari serangan dan melegalkan kesewenang-wenangan terhadap kehidupan manusia dan martabat yang diperjuangkan komunitas hak asasi manusia selama puluhan tahun untuk mererapkannya dalam hukum dan budaya.

Hasil perang tanpa batasan ini adalah kehancuran bagi Aleppo. Orang-orang melarikan diri dan hidup mereka hancur. Mereka telah dibunuh di jalan-jalan, melarikan diri tembakan. Laki-laki dan anak laki-laki telah ditangkap dan ditahan, nasib mereka tidak diketahui dan keluarga mereka ketakutan atas penyiksaan atau eksekusi yang mungkin menanti mereka. Para tenaga medis yang telah mengabdikan kehidupan mereka untuk menyelamatkan orang lain, tanpa mempertimbangkan pilihan politik atau afilias apapuni, kini mungkin menghadapi ancaman karena mengikuti kewajiban profesional dan etika mereka yaitu membantu semua orang yang membutuhkan.

Sementara itu, kita semua menjadi saksi mata terhadap pemusnahan hukum perang. Kita semua telah melihat gambar wajah anak-anak berlumuran darah, tertegun diantara puing-puing, foto jasad yang hancur setelah serangan udara di sebuah klinik darurat, dan cuplikan video yang menunjukkan sebuah rumah sakit yang sangat sibuk, adegan berikutnya kehancuran menyeluruh. Jika ada satu anjgerah, foto dan video ini mungkin suatu hari digunakan sebagai bukti terhadap mereka yang telah melanggar hukum internasional dengan tujuan yang kejam. Dikombinasikan dengan kesaksian saksi mata, bukti dokumenter, informasi forensik dan catatan lain, mereka dapat menjadi bukti penting untuk mengadili mereka yang telah menumpahkan begitu banyak darah.

Pekan ini, Presiden Kolombia Juan Manuel Santos menerima Hadiah Nobel Perdamaian dan mengatakan dalam sambutannya, “Ini adalah hal bodoh ketika kita percaya bahwa konflik harus diakhiri dengan pemusnahan musuh. Sebuah kemenangan akhir melalui kekuatan, ketika alternatif tanpa kekerasan ada, tidak lain adalah kekalahan jiwa manusia. “

Dalam merebut Aleppo dengan cara apapun, Assad secara tidak manusiawi menyikapi siapapun yang melawan kekuasaannya, Assad mengatakan bahwa mereka tidak sedang memerangi pihak manapun tapi teroris memang tidak layak diberi kehidupan. Dalam proses jatuhnya Aleppo, ke tangan pemerintah Bashar Al-Assad menunjukkan dunia tanpa sadar telah menerima metode perang seperti itu. Kami memiliki sikap seperti yang Juan Manuel Santos katakan ketika, menyaksikan kekalahan spirit kemanusiaan di Aleppo. Mari kita menuntut perlindungan bagi warga sipil, rumah sakit dan tenaga medis, kembali ke hukum perang – sebelum jiwa-jiwa kemanusiaan dipadamkan di seluruh Suriah.

Sumber : physiciansofhumanright.org

Physicians for Human Right (PHR) adalah organisasi advokasi berbasis di New York yang menggunakan pendekatan ilmu pengetahuan dan medis untuk menghentikan kekejaman massal dan pelanggaran HAM berat.