Misi perjalanan kali ini adalah sebuah perjalanan rohani (pengalaman spiritual) yang luar biasa bagiku. Selepas subuh, aku bergegas untuk ke bandara untuk melanjutkan perjalanan dengan menggunakan pesawat menuju pulau penang, Malaysia. Allhamdulillah, dengan dua kali penerbangan, kakiku akhirnya menginjak Pulau Penang.

Saat kunjungan ke salah satu pasien pengungsi Rohingya

Tidak perlu berlama-lama berehat, kami berembug untuk melakukan langkah-langkah yang akan kita lakukan di Penang. Selain aku, ada teman-teman lain yang sudah lebih dahulu sampai disini untuk mempersiapkan agenda aksi kemanusiaan kali ini. Sebagai tenaga medis dan bergabung bersama LSM Kemanusiaan Medis, maka program kerja pun tidak jauh dari pelayanan medis. Yang membedakan adalah karena tempat yang akan kami kunjungi adalah para pengungsi Rohingya.

Tim medis saat melayani pasien pengungsi Rohingya.

Banyak sudah berita yang aku terima tentang keadaan mereka yang sangat memprihatinkan, terusir dari rumahnya, terbuang jauh dari negerinya, terpisah dengan sanak keluarganya dan tidak memiliki status kewarganegaraan. Pedih dan perih, itulah gambaran yang aku dapatkan saat mendengarnya. Dan kini, aku akan bertemu dengan mereka, hadir untuk meringankan beban mereka, mengobati sedikit luka yang mungkin akan susah terobati, dan menghibur mereka walau dengan senyum yang tertahan gemuruh tangis dalam dada.

*

Kunjungan Pertama Ke Sekolah Darurat

Setelah semua perbekalan kami siapkan, seperti obat-obatan beserta kendaraan yang akan kami gunakan. Juga tim medis yang selain aku, juga ada perawat dari Jakarta dan bidan dari Aceh siap untuk melakukan kunjungan medis pertama, yaitu sekolah darurat anak-anak Rohingya. Disebut sebagai sekolah darurat sebenarnya satu ruang sholat atau mushola yang saat waktu sholat masuk maka kursi-kursi dan papan tulis harus dilipat kembali karena ruangan akan digunakan untuk sholat berjamaah. Tidak ada perlengkapan standar ala sekolah sebagaimana umumnya seperti papan tulis yang besar, meja dan kursi yang didesain sesuai dengan postur tubuh anak-anak, buku-buku pelajaran baru yang lengkap dengan wangi kertas keluaran pabrik. Semua itu tidak ada disini.

Saat kunjungan pertama ke sekolah darurat, di Pulau Penang.

Tidak sampai satu jam perjalanan, kami sampai di sekolah tersebut. Anak-anak Rohingya dan orangtua mereka telah bersiap untuk menyambut kedatangan kami karena sebelumnya mereka telah diberitahu bahwa tim kami akan datang untuk memeriksa kesehatan mereka. Saat aku masuk ke dalam ruangan dan menatap mata anak-anak Rohingya itu satu-persatu, tak kuasa aku menahan air mata yang sejak keberangkatanku berusaha untuk kusimpan rapat rapat, tangis ini tumpah.

Ya Allah……
Rupanya masih ada air mata ini untuk saudaraku Rohingnya.
Aku tak peduli dengan pandangan teman-teman relawan lainnya karena memang aku orang yang tidak bisa melihat orang lain kesulitan. Lintasan kengerian yang mereka alami terbayang di kepalaku. Disinilah aku mulai memahami apa itu stateless, tidak memiliki kewarganegaraan, padahal itu perkara hak asasi yang setiap orang memerlukan pengakuan agar mendapat hak-hak kehidupannya di wilayah tersebut. Selama ini, hanya tau apa arti stateless tapi belum memahami hakikat sebenarnya sampai aku menyaksikan sendiri di dalam pandangan mata anak-anak tersebut, tatapan-tatapan kepedihan dari air muka orang tua mereka.

Bersama salah satu perawat HASI saat pelayanan medis untuk masyarakat Rohingya di Langkawi

Puluhan tahun mengalami penderitaan yang tak terperikan dimana dunia tidak mengambil perhatian terhadap kondisi mereka. Berlarian ketakutan akan menjadi korban keganasan junta militer Myanmar, sampai tidak tahu hendak kemana dituju. Setelah jauh menyelamatkan diri dan terdampar di beberapa negeri, berharap ada yang mau menerima dan memberikan bantuannya. Tapi apa daya, tidak sedikit muslim Rohingya ini dilarungkan kembali ke lautan lepas dengan alasan klasik, ‘Karena Negara kami tidak ada budget untuk menangani para pengungsi’. Laa haula walaa quwwata illaa billaahi.

Sedemikian murahnya harga nyawa manusia?. Padahal ketika diujung dunia sana seekor harimau langka atau orang utan tewas di tangan dingin para pemburu, maka dunia bersuara untuk menentang perbuatan yang tidak berperikemanusiaan tersebut. Ketika seekor panda lucu disebuah kebun binatang tewas karena kekurangan pangan, seluruh dunia mengecam dan menuntut penutupan kebun binatang tersebut. Dan mata para pengungsi itu seakan bertanya keras, apakah kami tidak lagi memiliki hak untuk hidup didunia ini???

Saat memberikan pelayanan medis untuk masyarakat Rohingya di Langkawi

Aku pun bertanya kepada teman-teman relawan yang sudah lebih dulu menangani para pengungsi Rohingya yang hidup di Malaysia, kiranya seperti apa keadaan mereka sehari-hari. Dan aku pun mendapatkan fakta yang menambah sesak dada ini, ya Allah dimanakah kaum muslimin? tidakkah mereka takut dengan pertanggungjawaban dihadapan Mu kelak?

“Hidup mereka amat sangat memprihatinkan, bahkan untuk tempat tinggal mereka harus hidup bersama-sama 5-7 keluarga dalam satu atap. Untuk pekerjaan, mereka diupah jauuh dibawah standar pekerja umumnya. Jika sehari pekerja biasa dibayar 30 sampai 50 ribu. Maka mereka hanya dibayar paling tinggi 10 ribu dengan beban kerja yang sama.” Ujar relawan yang menemani perjalanan tim.

Sedangkan untuk biaya pengobatan, karena ketiadaan identitas mereka harus membayar ratusan kali lipat dari biaya normal. Itu info yang aku dapat sehingga program pelayanan medis ini kami buat. Dan kami berharap tenaga-tenaga medis lainnya mau berpartisipasi memberikan pelayanan medis kepada mereka secara cuma-cuma. Setelah ini, in syaa Allah kami akan melakukan program berkala pelayanan medis untuk pengungsi Rohingya, bukan hanya di Malaysia bahkan di negeri-negeri lainnya dimana umat Islam tertindas memanggil kita. Anda berminat??

dr. Arifin, Sp.Pd, KIC.
Penang, 6 januari 2018